Meski terbakar, Klenteng Tri Dharma malam ini ditempati peribadatan dan doa bersama Waisak (Agus Salam/Jatim TIMES)

Meski terbakar, Klenteng Tri Dharma malam ini ditempati peribadatan dan doa bersama Waisak (Agus Salam/Jatim TIMES)


Pewarta

Agus Salam

Editor

A Yahya


Dua Hari pascakebakaran, umat Budha dan Khong Hucu bersih-bersih Klenteng Tri Dharma Sumber Naga Kota Probolinggo. Mereka membersihkan puing-puing dan barang yang berserakan, meski acara peribadatan Waisak ditiadakan.

Belum diketahui, apakah tim labfor Mabes Polri Cabang Surabaya, sudah tiba di lokasi kejadian. Sementara ini belum ada informasi yang jelas dari Polres Probolinggo Kota mengenai hal tersebut. Namun, kondisi dan situasi di klenteng masih tetap seperti semula.

Usai bersih-bersih pengurus Tempat Ibadah Tri Dharma (TITD akan bertemu guna membahas klenteng ke depan. Ketua TTID Adi Sutanto Saputro mengatakan, belum tahu kapan perbaikan klenteng akan dimulai. Pihaknya saat ini masih akan berembuk dengan pengurus. Dimungkinkan dimulai usai bertemu wali Kota Hadi Zainal Abidin.

Mengenai dana perbaikan atau rehabilitasi klenteng, tidak ada persoalan. Adi mengaku, sudah banyak sumbangan mengalir, baik dari perseorangn maupun dari kelenteng seluruh Indonesia. Hanya saja, pengusaha beras tersebut enggan menyebut. “Pokoknya sumbangan mengalir. Tidak hanya berupa uang, bahan bangunan seperti genteng keramik, sudah ada yang menanggung,” tandasnya, Minggu (18/5) siang.

Tentang acara peribadatan, lagi-lagi Agus mengatakan, ditiadakan. Ia dan pengurus lain tidak mempermasalahkan, dengan alasan situasi dan kondisi yang tidak memungkinkan. Ia menyebut,  seluruh sarana dan prasarana kebutuhan Waisak sudah dipersiapkan sebelum klenteng terbakar. Bahkan, tanggal 1 Juni depan, pihaknya sudah mengundang seorang bante untuk berceramah di waisak. “Terus terang, semuanya sudah siap. Karena situasi, ya kami tiadakan,” tandasnya.

Tak hanya sembahyangan di klenteng ditiadakan, sekolah minggu yang menempati bangunan belakang bangunan utama, diliburkan. Hal tersebut disampaikan Yen Ching Ini, guru sekaligus Pembina sekolah minggu. Padahal gedung yang biasa digunakan, tidak terbakar sedikitpun. “Kita sepakat untuk diliburkan dulu. Ya karena situasi dan kondisi klenteng masih seperti ini. Nanti kalau sudah bersih, sekolah masuk lagi,” tandasnya.

Disebutkan, di belakang bangunan utama, memang ditempati sekolah di sore hari. Muridnya campuran dari anak-anak hingga remaja dan belajarnya tidak dibatasi dengan kelas. Mereka membaur menjadi satu mendengarkan sang guru. “Pelajarannya tentang ketuhanan dan adab kesopanan. Cara beribadah dan lain-lain. Pelajaran yang kami berikan, bukan seperti di sekolah. Dan sekolahnya setiap minggu. Jadi tidak mengganggu sekolah umum. “pungkasnya.

Diperoleh kabar, umat budha mala ini tetap melaksanakan peribadatan dan doa bersama di kelenteng Tri Dharma Sumber Naga. Meski kelenteng tempatnya beribadah, mereka khusus melaksanakan peribadatan. Lokasi yang dipakai, halaman depan kelenteng. 


End of content

No more pages to load