Malaysia klaim babi hutan liar Indonesia invasi wilayahnya (Ist)

Malaysia klaim babi hutan liar Indonesia invasi wilayahnya (Ist)


Pewarta

Dede Nana

Editor

A Yahya


Malaysia kembali membuat masyarakat Indonesia dibuat geleng kepala dan bertanya-tanya. Pasalnya, Malaysia melalui Komite Pertanian, Pengembangan Agrobisnis dan Koperasi Malaka, menyampaikan, adanya invasi dari Indonesia ke wilayahnya melalui jalur pantai Melaka setiap malamnya.

Invasi dari Indonesia tersebut bukanlah Pekerja Migran Indonesia (PMI), tapi diklaim dilakukan oleh rombongan babi hutan liar.
"Sekarang Melaka dihuni oleh babi hutan liar dari Indonesia. pulau Besar telah mengalami kerusakan luas dari migrasi puluhan babi hutan, termasuk anak babi," kata Norhizam Hassan Baktee Ketua Komite Pertanian, Pengembangan Agrobisnis, dan Koperasi Malaka, seperti dilansir dari vice.com.

Tidak hanya itu Norhizam juga mengklaim, babi hutan asal Pulau Sumatra ini menginvasi wilayah Malaysia dengan cara berenang menyeberangi selat Malaka menuju kawasan hutan di Pulau Besar, di pesisir Malaka. "Kita mendapat laporan dari nelayan perairan pantai selat Malaka yang telah menyaksikan sendiri moncong babi hutan berenang dalam malam gelap di sepanjang garis pantai Melaka hampir saban malam," ujarnya.

Invasi langka yang disebut telah membuat kawasan lindung rusak itu, membuat Departemen Satwa dan Taman Nasional Melaka, akan mengendalikan invasi para babi hutan liar Indonesia. Yakni dengan mendatangkan tiga penembak untuk mengendalikan invasi babi hutan dan menyelamatkan pulau Besar. "Jika tidak dikendalikan, jumlah babi hutan yang menempati pulau Besar akan melebihi jumlah manusia yang tinggal di sana," ujar Norhizam.

Pernyataan tersebut sontak membuat beberapa kalangan dibuat geleng kepala. Terutama terkait klaim invasi babi hutan melakukan invasi ke wilayah Malaysia dengan cara menyeberangi selat Malaka.

Suharyono, Kepala Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam (BBKSDA) Provinsi Riau, ragu dengan klaim dari Pemerintah Malaysia. Hal ini terkait penjelasan otoritas Malaysia yang menyampaikan cara invasi babi hutan liar ke wilayahnya. "Apa iya babi mampu berenang di Selat Malaka dengan jarak puluhan kilometer itu. Inilah yang kita ragukan. Kalau hanya sekadar diklaim ada babi di pantai Malaysia lantas dianggap menyeberang dari Indonesia, ya kan sulit pembuktiannya seperti itu," ujar Suharyono.

Keraguan itu dikarenakan, jarak wilayah dengan populasi babi hutan liar Indonesia, yaitu di pulau Rupat, Riau, pulau terdekat dengan Malaysia. Jaraknya bisa mencapai 62,59 kilometer.

Selain hal itu, Selat Malaka juga memiliki kecepatan arus pasang dan surut rata-rata  0,07-1,19 m/detik. Plus padatnya arus lalu lintas laut di selat tersebut dikarenakan merupakan kawasan laut yang menjadi titik perdagangan dan pengangkutan kargo dan minyak terbesar kedua di dunia setelah selat Hormuz. Dimana menurut laporan Stairtrep, jumlah kapal yang melintas di perairan Malaka sebanyak 85.030 unit per tahun, atau lebih dari 600 kapal per hari.

Syamsidar juru bicara WWF di Riau, juga meragukan klaim Malaysia tersebut. "Selama ini sih kami belum pernah tahu atau menerima informasi itu dari jaringan aktivis kalau babi Sumatera menyeberangi Selat Malaka hingga ke Malaysia," ujarnya.

Walaupun dirinya juga mengetahui bahwa babi hutan dikenal dengan kemampuannya beradaptasi di alam liar, termasuk berenang. Walaupun dengan bobot badan mencapai 100 kilogram, baju hutan bisa menyeberangi sungai dan danau. "Tapi ini menyebrang selat Malaka bukan sungai. Lumayan musykil. Jadi klaim itu amat meragukan ya," ucap Syamsidar.

 


End of content

No more pages to load